quransunnahpemahamansahabat. Powered by Blogger.

About us

Flickr

Find Us On Facebook

Advertisement

Featured Video

Featured Video

Video Of Day

Rekomendasi Kami

Popular Posts

Kamu Pasti Tertarik

MoreBaru diupdate

Latest Products

Showing posts with label fiqih islam. Show all posts
Showing posts with label fiqih islam. Show all posts

Segala puji hanya milik Allah. Sholawat dan dalam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Wa ba’du,
Begitu banyak sisi keindahan Islam yang dapat kita rasakan bersama. Begitu banyak pula pahala yang Allah siapkan bagi hamba-Nya yang menjadikan Islam sebagai agama baginya. Hanya saja, sisi keindahan Islam yang begitu banyak tersebut mungkin belum diketahui oleh banyak manusia. Maka itu, simaklah tulisan ringkas berikut, yang menjelaskan bahwa Islam itu indah.



ISLAM AGAMA FITRAH
Sesungguhnya agama yang diridhai Allah ta’ala hanyalah Islam. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ 
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)
Hal ini disebabkan karena Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia, sesuai dengan akal sehat dan senantiasa cocok pada setiap masa sampai kapan pun, hingga datang ketetapan dari Allah ta’ala bagi semua makhluk-Nya, yaitu hari kiamat.
Demikian juga, sebab manusia diciptakan dalam keadaan fitrah, yakni Islam. Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.
“Tidaklah setiap anak dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah (Islam). Adapun yang menyebabkannya berkeyakinan Yahudi, Nasrani atau Majusi adalah kedua orangtuanya.” (Muttafaq ‘alaihi)

[
ISLAM AGAMA KESELAMATAN
Kata al-Islam terambil dari kata salima–yaslamu yang berarti keselamatan atau aslama–yuslimu yang berarti berserah diri. Hal ini sesuai dengan sifat asli manusia yang telah diciptakan Allah ta’ala sejak awal, yaitu mencintai kedamaian dan keselamatan. Hal itu sekaligus membantah propaganda orang-orang Yahudi dan Kristen yang menjanjikan keselamatan dan kedamaian bagi para pemeluknya. Karena sesungguhnya kedamaian dan keselamatan itu hanya ada di dalam agama Islam dan tidak hanya ada di dunia fana ini, namun hakikat kedamaian dan keselamatan yang senantiasa diharapkan oleh umat manusia adalah kedamaian, ketenangan, dan keselamatan yang abadi di akhirat kelak, di dalam surga-Nya. Allah ta’ala berfirman:
وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ‌ۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡ‌ۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَـٰنَڪُمۡ إِن ڪُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (١١١) بَلَىٰ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُ ۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ۬ فَلَهُ ۥۤ أَجۡرُهُ ۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (١١٢)
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani". Demikian itu hanya angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". (Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-Baqarah: 111-112)


ISLAM AGAMA TAUHID
Selain itu, Islam juga menyuruh agar segala macam peribadatan hanya ditujukan kepada Allah ta’ala semata, sehingga kedudukan semua manusia sama di hadapan-Nya. Karena sesungguhnya Allah tidak melihat pada fisik atau harta manusia, namun Dia melihat pada amal shalihnya. Hal ini sangat sesuai dengan sabda Rasulullah n berikut:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُم.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa (fisik) dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat pada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)
Cukuplah bagi kita satu ayat ini yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama tauhid. Firman-Nya:
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ (٥)
“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)
Memurnikan agama kepada Allah berarti mentauhidkan-Nya. Sedangkan hanif (lurus) berarti jauh dari kesyirikan dan kesesatan, serta dekat kepada tauhid dan kebenaran.


ISLAM SESUAI AKAL SEHAT MANUSIA
Agama Islam juga memiliki konsep ketuhanan yang mudah dipahami dan sesuai dengan akal sehat manusia. Ia tidak mengandung kerancuan dan kebingungan sebagaimana agama lain yang memiliki banyak tuhan, seperti konsep trinitas yang penuh dengan kerancuan dan kepalsuan.
Akal sehat manusia pasti mengatakan bahwa keteraturan yang terjadi pada alam semesta bukanlah suatu kebetulan. Telah dipahami bersama bahwa keteraturan tidak dapat terjadi dengan banyaknya sesuatu yang mengatur, akan tetapi keteraturan hanya dapat terjadi jika hanya ada satu Dzat Yang Maha Agung yang mengatur alam semesta tanpa cacat. Allah ta’ala berfirman seraya membantah penyembahan kepada selain-Nya:
ذَٲلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلۡبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡڪَبِيرُ (٣٠)
“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Luqman: 30)
Allah ta’ala berfirman pula dalam ayat yang lain:
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "al-Masih itu putra Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 30-31)
Firman-Nya:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam", Padahal al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhan-ku dan Tuhan-mu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. al-Maidah: 72)


ISLAM AGAMA SEMPURNA
Islam dengan berbagai keutamaannya merupakan agama yang menyempurnakan syariat-syariat yang telah berjalan pada umat-umat sebelumnya. Firman-Nya:
وۡنِ‌ۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ 
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah: 3)
Dalam menyikapi ayat yang mulia ini, Imam Malik v berkata dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dari riwayat Bukhari v dengan perkataan yang diabadikan oleh ulama dan senantiasa digunakan sebagai dalil penguat dalam membantah orang-orang yang gemar mengadakan atau mengerjakan hal baru dalam agama. Perkataan itu adalah:
وَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنَا.
“Dan apa yang tidak dianggap sebagai agama pada hari itu, maka tidaklah pula dianggap agama pada hari ini. " (Lihat: Tafsir Ibn Katsir pada surat al-Maidah: 3)
Salah satu pelajaran penting yang dapat diambil dari perkataan Imam Malik v di atas adalah bahwa Islam adalah agama yang paling lengkap, dan kedatangannya berfungsi sebagai penyempurna dari syariat nabi dan rasul terdahulu.
Di antara bukti yang menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang sempurna adalah perkataan Abu Dzar al-Ghifarizyang diabadikan oleh Imam ath-Thabrani v dalam kitabnya al-Mu'jam al-Kabir dari jalan Sufyan bin 'Uyainah v yang redaksinya sebagai berikut:
تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْماً، قَالَ: فَقَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
“Rasulullah n meninggalkan kami sementara itu tidaklah ada seekor burung yang mengepakkan kedua sayapnya di langit melainkan beliau telah menjelaskan ilmunya kepada kami. Beliau n bersabda: "Tidaklah tersisa sesuatupun yang dapat mendekatkan (diri) kepada surga dan yang menjauhkan dari neraka, melainkan telah dijelaskan kepada kalian."  (Hadits shohih. Lihat ash-Shohihah no. 1803)

ISLAM MENGHAPUS DOSA SEBELUMNYA
Di antara keindahan Islam yang lainnya adalah, bahwasanya Islam menghapuskan keburukan dan dosa-dosa manusia apabila ia mau memeluknya, dan tidak menghapus kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya sebelum memeluk Islam, namun justru menetapkan kebaikan itu sebagai amal shalih baginya dan akan dilipatgandakan sampai 700 kali. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah n dalam haditsnya yang shahih, dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri zdalam Shahih al-Bukhari yang berbunyi:
إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا، وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلاَّ أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهَا.
“Apabila seorang hamba masuk Islam lalu baik keislamannya, niscaya Allah akan menghapus seluruh kesalahan yang pernah dilakukan, setelah itu dibalaslah semua amalnya, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali semisalnya hingga bisa mencapai 700 kali. Sedangkan satu kejelekan dilipatgandakan sekali semisalnya, kecuali bila Allah mengampuninya.” (HR. Bukhari)
Jadi, apabila seorang muslim senantiasa menjaga agamanya dengan baik, dan bertaubat dari setiap kesalahannya, niscaya Allah ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya.
Demikianlah uraian singkat tentang beberapa sisi keindahan Islam. Semoga bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam.

(Oleh: Dimas Novianto)





Kondisi manusia di dunia berada di antara dua pilihan: kalau tidak dalam keadaan berdzikir pasti dalam kondisi lalai dan sibuk dengan urusan dunia. Orang yang selalu berdzikir kepada Allah dan tidak pernah luput darinya, sungguh ia telah mengabaikan dunia yang fana ini, dan itulah muslim yang hakiki. Allah ta’ala berfirman:
رِجالٌ لا تُلْهيهِمْ تِجارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ إِقامِ الصَّلاةِ وَ إيتاءِ الزَّكاةِ يَخافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فيهِ الْقُلُوبُ وَ الْأَبْص
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan sholat, dan dari membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari, yang di hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37)
 Sedangkan orang yang sibuk dengan urusan dunia dan lalai dari mengingat Allah, ia akan termasuk dari golongan-golongan berikut:

1.      Termasuk Golongan Syaitan.
Allah ta’ala berfirman:

يَآيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْآ اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجَلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.(QS. al-Mujadilah: 11)
2.      Mereka akan Merugi di Dunia dan Akhirat.
Firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. ( QS. al-Munafiqun: 9)
3.      Hidupnya akan Sempit dan di Hari Kiamat Bangkit dalam Keadaan Buta.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤) 
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thoha: 124)
4.      Akan Disiksa di Dalam Neraka.
Allah ta’ala berfirman:
لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا (١٧)
Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhan-nya, niscaya akan dimasukkan ke dalam adzab yang amat berat. (QS. al-Jin: 17)
5.      Mereka Berpindah dari Satu Kesesatan kepada Kesesatan yang lain.
Allah ta’ala berfirman:
 فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ الله
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. az-Zumar: 22)
Berdzikir merupakan seagung-agung ibadah. Manfaatnya tidak mampu diungkapkan oleh lisan dan tidak bisa terbilang oleh perhitungan manusia. Kedudukannya sangat agung, pahalanya sangat banyak, dan melakukanya sangat ringan dan mudah.
Ibnul Qoyim v menyebutkan keutamaan berdzikir hingga sampai enam puluh (60) keutamaan, sebagaimana dikutip oleh pensyarah kitab Hisnul Muslim Majdi Bin Abdul Wahab al-Ahmad. Silahkan lihat Muqoddimah Syarah Hisnul Muslim, hal. 9. Dan cukuplah bagi kita bahwa berdzikir dapat membuat hati kita tenang dan tenteram. Allah azza wa jalla berfirman:

 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. ar-Ra’du: 28)
Nabi n bersabda:
مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ.
Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir bagaikan orang hidup dan mati” (HR. Bukhori, no. 6407)
Ibnu Taimiyah v berkata: “ Dzikir bagi hati bagaikan air bagi ikan, lantas bagaimana nasib ikan apabila tidak ada air”. (Syarh Hisnul Muslim, hal. 9)
Tidaklah Allah ta’ala mewajibkan sesuatu kecuali ada batasannya, seperti sholat wajib lima waktu. Namun berbeda dengan dzikir, Allah tidak memberikan batasan dan jumlahnya, kecuali dzikir-dzikir yang dikhususkan, seperti setelah sholat fardhu. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi seseorang untuk meninggalkanya. Allah ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُوا الله قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
Maka ingatlah Allah di waktu berdiri, duduk dan berbaring. (QS. an-Nisa: 103)
Yakni ingatlah Allah di waktu malam dan siang hari, di laut maupun di darat, ketika safar atau mukim di rumah, dalam kondisi miskin atau kaya, ketika sehat atau sakit, ketika sendirian dan di keramaian serta dalam semua kondisi.

KONDISI HATI MANUSIA YANG TIDAK BERDZIKIR
Manusia yang tidak pernah berdzikir kepada Allah, hatinya akan berkarat bak besi. Sedangkan cara menghilangkanya ialah dengan berdzikir. Setelah bersih, hati itu bagaikan cermin yang bening mengkilap. Namun jika dzikir ditinggalkan, hati akan berkarat lagi dan begitu seterusnya. (Muqoddimah Syarah Hisnul Muslim, hal. 10)

ARTI BANYAK BERDZIKIR
Allah ta’ala berfirman:
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab: 35)
Mujahid v berkata: “ Tidak disebut laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, sebelum ia berdzikir ketika berdiri, duduk, dan berbaring.” (al-Adzkar, an-Nawawi, hal.10)
Sedangkan Abu Amr bin Sholah, ketika ditanya tentang batasan orang yang banyak berdzikir, beliau mengatakan:” Apabila konsisten membaca dzikir-dzikir ma’tsur (ada riwayatnya) yang shohih, baik pagi dan sore, di setiap waktu dan kondisi yang berbeda-beda, baik siang maupun malam, yang berdasarkan kitab amalan siang dan malam, maka yang demikianlah yang disebut orang yang banyak berdzikir”. (al-Adzkar, an-Nawawi, hal.10)

CARA BERDZIKIR DAN TINGKATANYA
Berdzikir itu memiliki tiga tingkatan:
1.      Berdzikir dengan hati dan lisan, inilah tingkatan yang paling utama.
2.      Berdzikir dengan hati saja, ini merupakan tingkatan kedua.
3.      Berdzikir dengan lisan saja, dan ini tingkatan yang terendah. (al-Jami’ fi al-Du’a, hal. 234)
DZIKIR ADALAH BENTENG
Dzikir merupakan benteng penahan diri dari dua hal berikut:
1.      Benteng dari Musuh di Medan Pertempuran.
sebagaimana tertera di dalam surat al-Isro` ayat 45-46, dan firman Allah ta’ala kepada Musa dan Harun ketika keduanya di utus kepada Fir’aun:

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. (QS. Thoha: 42)
2.      Benteng dari Gangguan syaithan dan Jin.
Kita ketahui bersama bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka itu, apabila kita ingin berlindung dari syaitan, hendaklah berdzikirlah kepada Allah. Bila kita membaca ayat kursi di sore hari, Allah akan senantiasa menjaga kita dari syaitan, dia tidak bisa mendekat sampai pagi. Demikian pula halnya bila dibaca pada pagi hari, dia tidak bisa mendekat hingga malam hari.
Nabi n juga mengabarkan bahwa rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqoroh, tidak akan dimasuki oleh syaitan (HR. Muslim). Dan dengan berdzikir pagi dan petang, Allah akan selalu menjaga kita dari gangguan jin dan syaitan.

MANFAAT BERDZIKIR
Manfaat berdzikir sangat banyak. Cukuplah bagi kita bahwa berdzikir akan menyibukan kita dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), berdusta, dan ucapan tidak baik lainnya.
Karena manusia itu pasti berbicara, barang siapa yang sibuk dengan berdzikir, maka pasti ia berpaling dari hal-hal yang diharamkan.

DZIKIR IBADAH YANG MUDAH
Dzikir merupakan ibadah yang mudah, tetapi kedudukanya begitu agung dan pahalanya amatlah banyak. Hal ini, sebagaimana sabda Nabi n:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.
Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dicintai oleh (Allah) ar-Rohman: SubhanAllahil A’dzim, SubhanAllah wa Bihamdihi. (HR. Bukhori, no 6406)

WASIAT LUKMAN UNTUK ANAKNYA
Lukmanul Hakim pernah berwasiat kepada anaknya:” Wahai ananda, pilihlah majlis olehmu; seandainya kamu menemukan suatu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah (majlis ilmu), maka duduklah bersama mereka. Sebab apabila kamu berilmu, maka ilmumu akan bermanfaat. Apabila kamu bodoh, maka mereka akan mengajarimu. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya, semoga kamu mendapatkan bagiannya. Seandainya kamu menemukan suatu kaum yang tidak berdzikir kepada Allah, maka janganlah duduk bersama mereka. Sebab jika kamu berilmu, maka ilmumu tidak akan bermanfaat. Jika kamu bodoh, maka mereka akan menambah kebodohanmu. Mudah-mudahan Allah menimpakan siksa kepada mereka termasuk kamu juga.” (al-Jami’ fi ad-Du’a an-Nafi’, hal. 238) []
(Oleh: Abu Sa’id as-Sundawy)




FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE