quransunnahpemahamansahabat. Powered by Blogger.

About us

Flickr

Find Us On Facebook

Advertisement

Featured Video

Featured Video

Video Of Day

Rekomendasi Kami

Popular Posts

Kamu Pasti Tertarik

MoreBaru diupdate

Latest Products

Showing posts with label adab dan akhlaq. Show all posts
Showing posts with label adab dan akhlaq. Show all posts


Pembaca yang dirahmati Allah, sesungguhnya Islam adalah agama sempurna yang mengatur segala sisi kehidupan manusia. Kesempurnaan seperti ini tidak akan kita temukan pada agama yang lainnya. Maka itu Allah ta’ala berfirman:
 ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam menjadi agamamu.” (QS. al-Ma’idah: 3)
Islam telah mengatur segala hal yang berkaitan dengan aktivitas manusia, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dan di antara sekian peraturan yang telah diajarkan Islam adalah hukum-hukum seputar makan dan minum. Islam mengajarkan beberapa tuntunan tentangnya, agar manusia menjadi insan yang teratur dan sempurna dalam menyuguhkan peribadatannya kepada Allah ta’ala.

BEBERAPA HAL PENTING SEPUTAR MAKAN DAN MINUM
Berikut beberapa hal penting yang berkaitan dengan makan dan minum yang telah diajarkan oleh agama Islam:
1.      Niatkan untuk memperkuat diri dalam beribadah kepada Allah.
Makan dan minum yang membuahkan pahala adalah yang diniatkan untuk memperkuat tubuh dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Umar bin al-Khattab z, bahwasanya Rasulullah n bersabda:
“Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang telah ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
2.      Berlindung dari kelaparan.
Rasulullah n berucap dalam sebuah doa:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُوْعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيْعُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, sebab ia seburuk-buruk teman tidur, dan aku berlindung kepada-Mu dari khianat, sebab ia seburuk-buruk teman dekat.” (HR. Abu Dawud no. 2723 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
3.      Larangan makan dan minum dari bejana emas dan perak.
Hudzaifah bin al-Yamanzberkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
“Janganlah kalian memakai kain sutra dan kain dibaj (jenis sutera halus), dan jangan pula kalian minum pada bejana emas dan perak serta makan pada piring yang terbuat dari emas dan perak, sebab itu adalah bagian  mereka (orang-orang kafir) di dunia dan bagian kalian di akhirat.” (HR. Bukhari no. 5426, Muslim no. 2067)
4.       Makan makanan yang halal.
Tidak sepatutnya seorang muslim memasukkan makanan ke dalam mulutnya kecuali yang halal. Karena sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik saja. Allah ta’ala berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ڪُلُواْ مِن طَيِّبَـٰتِ مَا رَزَقۡنَـٰكُمۡ  (١٧٢)
“Wahai orang-orang yang beriman makanlah kalian dari yang baik pada apa-apa yang telah Kami rizkikan kepadamu.” (QS. al-Baqoroh: 172)
Makanan yang tidak baik (baca: halal) dapat membuahkan amalan yang tidak baik pula, dan menyebabkan doa seseorang tidak diterima oleh Allah azza wa jalla.

5.       Cara makan yang baik.
Bukan hanya manusia saja yang selalu meminta bagian. Ternyata perut kita pun mendambakan pembagian dalam hal makan. Pembagian yang dimaksudkan ialah membagi perut menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sisanya untuk nafas. Dengan demikian, seseorang tidak akan makan dan minum secara berlebihan. Cara makan seperti inilah yang telah dianjurkan oleh Rasulullah n. Beliau bersabda:
“Tidaklah seorang anak Adam mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika dia harus mengerjakannya maka hendaklah dia membagi sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmdizi no. 2380 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat: ash-Shohihah no. 2265)

6.       Tidak makan sambil bersandar.
Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari no. 5398)

7.       Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya generasi salaf dahulu biasa mencuci tangannya sebelum makan. (Mausu’ah al-Adab al-Islamiyyah, hlm. 114)
Dan Nabi n bersabda: “Barangsiapa yang tidur sementara tangannya dipenuhi bau daging dan dia belum mencucinya lalu ditimpa oleh sesuatu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri”. (HR. Ahmad no. 7515, Abu Dawud no. 3582, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

8.       Membaca BISMILLLAH sebelum makan dan berdoa setelahnya.
Bukan membaca Bismillahirraohmanirrohim. Sebab yang diperintahkan dan dilakukan Nabi n adalah membaca bismillah saja. (Muttafaq ‘alaihi)
Apabila lupa membaca bismillah di awal makan lalu ingat ketika sedang makan,
maka ucapkanlah, “Bismillah fi awwalihi wa akhirihi” (Dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya. (HR. Ibnu Hibban. Lihat: ash-Shohihah no. 198)
Berkenaan dengan doa setelah makan, ada beberapa lafazh yang telah diajarkan Nabi n kepada kaum muslimin, berikut ini salah satunya: 
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan dan mengaruniakan rizki makanan ini tanpa daya dan upaya dariku.” (Shohih al-Jami’ no. 6086)

9.       Makan dan minum dengan tangan kanan.
Inilah yang Nabi n perintahkan kepada Umar bin Abi Salamah. (Muttafaq ‘alaihi)
Tidak diperbolehkan makan dengan menggunakan tangan kiri berdasarkan sabda Nabi n: “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, sebab setan makan dengan tangan kiri”. (HR. Muslim)
10.    Manyantap makanan yang terdekat.
Ketika makanan yang ada hanya satu macam, hendaklah kita makan dari apa yang terdekat dengan kita. Suatu ketika Nabi n bersabda: “Makanlah dari apa-apa yang terdekat denganmu”. (HR. Bukhari & Muslim)

11.    Dianjurkan makan dari pinggir piring.
Anjuran ini berdasarkan sabda Nabi n berikut: "Makanlah pada piring dari pinggirnya, janganlah kalian makan dari tengahnya, sebab keberkahan turun pada tengah suatu makanan”. (HR. Abu Dawud no. 3772. Lihat: al-Misyat no. 4211)
12.    Dianjurkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jemari setelahnya.
Dari Ka’ab bin Malikzbahwasanya Rasulullah n makan dengan tiga jari dan beliau menjilati jari-jemarinya sebelum membersihkannya”. (HR. Muslim no. 2032)
Hikmah dari menjilat jari-jemari tersebut adalah sebagaimana yang Nabi Muhammad n sabdakan: “(Sebab) kalian tidak mengetahui di bagian makanan manakah keberkahan itu ada”. (HR. Muslim 2034)

13.   Dianjurkan mengambil suapan yang terjatuh, membersihkannya lalu memakannya.
Rasulullah n pernah menjelaskan: “Apabila seorang dari kalian sedang makan, lalu suapannya terjatuh dari tangannya, maka hendaklah dia membersihkan apa-apa yang meragukan lalu makanlah, dan janganlah membiarkannya untuk setan.” (Lihat: ash-Shohihah no. 1404)

14.   Menyantap makanan setelah berkurang panasnya.
Nabi n bersabda: "Makanan itu hendaknya tidak dimakan kecuali setelah hilang asap panasnya”. (Lihat: Irw`aul Gholil no. 1978)
15.   Dilarang mencela dan menghina makanan.
Sebagimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwasanya Rasulullah n sama sekali tidak pernah mencela makanan, apabila beliau menyukainya maka beliau makan, bila tidak maka beliau meninggalkannya. (HR. Bukhari no. 5409)

16.   Makan dan minum sambil duduk.

Dari Anas bin Malik z bahwasanya Rasulullah n melarang minum sambil berdiri. (HR. Muslim no. 2024)
17.   Tidak bernafas dan meniup di dalam bejana (tempat minum).
Nabi n bersabda: “Apabila seorang dari kalian minum maka janganlah ia bernafas di dalam bejana”. (HR. Bukhari no. 5630)

18.   Dilarang minum dari sebuah bejana yang pinggirnya pecah.
Dari Abu Hurairah z ia berkata bahwasanya dilarang minum dari bejana yang pinggirnya pecah.” (Lihat: ash-Shohihah no. 2689)

19.    Dimakruhkan minum dari tempat air (teko) secara langsung.
Dari Abu Hurairah z ia berkata: “Rasulullah n melarang minum dari mulut geriba (sejenis jerigen atau cerek) atau dari bejana tempat air minum (secara langsung). (HR. Bukhari no. 5627)

20.    Apabila lalat terjatuh pada minuman.
Dalam hal ini, tuntunan yang dikerjakan adalah menenggelamkan lalat tersebut dalam bejana lalu membuangnya, sebagaimanana yang ditegaskan dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah z bahwasanya Rasulullah n bersabda:
“Apabila seekor lalat terjatuh pada bejana salah seorang di antara kalian, maka hendaklah dia menenggelamkannya seluruhnya, lalu membuangnya, sebab dalam salah satu sayapnya terdapat racun (penyakit), sementara pada sayap yang lain ada obat (penawarnya)”. (HR. Bukhari no. 5782)

21.    Dianjurkan makan secara bersama-sama (dalam satu piring).
Yang demikian berdasarkan sabda Nabi n: “Makanan untuk seorang cukup untuk dua orang, makanan dua orang  untuk empat orang dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang. (HR. Muslim no. 2059)

PENUTUP
Demikianlah sebagian etika makan dan minum yang telah diajarkan Rasulullah n kepada kita. Hal ini hendaknya diperhatikan, agar makan dan minum kita mendatangkan banyak pahala dari Allah ta’ala.
Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kaum muslimin yang senantiasa mengikuti Rasulullah n hingga akhir zaman. Amin.


(Oleh: Ali Leo Agustian)



                Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du,

DI ANTARA NIKMAT DAN RAHMAT ALLAH
Ada satu hal di mana manusia tidak bisa terlepas darinya. Setiap orang pasti membutuhkan bahkan sangat membutuhkannya di sela-sela kehidupan kesehariannya. Ketahuilah, satu hal tersebut adalah tidur. Tidur merupakan rahmat dan nikmat yang luar biasa dari Allah ta’ala yang diberikan kepada segenap hamba-Nya. Allah azza wa jalla berfirman:
وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ (٧٣)
Dan di antara rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (QS. al-Qashas: 73)
            Alangkah nikmatnya seseorang yang dapat beristirahat dalam tidur dengan begitu pulasnya. Firman-Nya:
 وَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتً۬ا (٩)
Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. (QS. an-Naba`: 9)
            Dengan tidur, hati seorang hamba menjadi tenang dan nyaman, ia dapat melepaskan lelah dan letih setelah sehari bekerja, dan badan seorang hamba dapat menjadi kuat dan segar bugar untuk melaksanakan berbagai aktivitas sehari-hari dan menunaikan kewajibannya kepada Allah ta’ala, yang menjadi tujuan utama penciptaan manusia yaitu beribadah hanya kepada-Nya semata. Maka sepatutnyalah seorang muslim mensyukuri nikmat ini, yang mana salah satu caranya adalah dengan menjaga adab-adab yang telah dicontohkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.


RUTINITAS NABI صلى الله عليه وسلم SEBELUM TIDUR
            Berikut ulasan ringkas seputar adab-adab tersebut:
Pertama: Membiasakan tidur di awal malam (tidak begadang)
            Hal ini dilakukan ketika tidak ada suatu kepentingan yang bermanfaat seperti mengulangi pelajaran, menghafalkan al-Qur`an, belajar hadits dan berbagai aktifitas penting lainnya. Abu Barzah z berkata:
أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَا.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم membenci tidur sebelum shalat Isya dan berbincang-bincang setelahnya. (HR. Bukhari, no. 568)
            Ibnu Battol v menjelaskan, “Nabi صلى الله عليه وسلم tidak suka begadang setelah shalat Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir luput dari shalat shubuh berjamaah. Umar bin al-Khattab z sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh al-Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278)

Kedua: Berwudhu
            Hal ini berdasarkan hadits al-Baro` bin Azib z, Nabi n bersabda:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ.
Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari, no. 247 dan Muslim, no. 2710)

Ketiga: Tidur berbaring pada sisi kanan
            Adab ini sebagaimana diterangkan pada hadits yang disebutkan pada poin kedua di atas. Di hadist lain yang diriwayatkan Abu Dawud bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ طَاهِرًا فَتَوَسَّدْ يَمِيْنَكَ.
Apabila kamu menuju kasur untuk tidur setelah dalam keadaan suci (berwudhu) maka berbaringlah pada sisi kananmu. (Hadits shahih. Shohih Abu Dawud, no. 5047)
            Adapun manfaatnya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim v, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas).” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322)

Keempat: Tidak tidur tengkurap.
            Sebab cara tidur seperti ini merupakan cara tidurnya penduduk neraka dan tidak disukai Allah azza wa jalla. Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا هِيَ ضَجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ.
Sesungguhnya tidur seperti itu adalah cara tidurnya penghuni neraka. (Misykat al-Mashobih, no. 4731)
            Beliau juga bersabda:
إِنَّ هَذِهِ ضَجْعَةٌ لاَ يُحِبُّهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Sesungguhnya tidur seperti itu adalah cara tidur yang tidak disenangi oleh Allah ‘azza wa jalla. (Hadits shohih. Lihat: Misykat al-Mashobih, no. 4718)

Kelima: Membaca wirid-wirid yang disunnahkan sebelum tidur.
            Ada beberapa lafazh wirid sebelum tidur yang telah diajarkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada kita. Berikut di antaranya:

1)   Bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 34 kali.
            Bertasbih artinya mengucapkan subhanallah, bertahmid artinya mengucapkan alhamdulillah, sedangkan bertakbir yakni mengucap Allahu akbar. Sehingga jumlahnya genap menjadi 100 kali.
            Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Ali Bin Abi Thalib z dan Fatimah x, ketika mereka berdua meminta seorang pembantu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bisa menolong mereka dalam mengurusi pekerjaan rumah tangganya. Maka Rasulullah n bersabda:
أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِيْ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ وَتُسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَتَحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.
Maukah kalian berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta? Apabila kalian hendak tidur maka bertasbihlah sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, bertakbir sebanyak 34 kali, karena hal ini lebih baik untuk kalian dari seorang pembantu. (HR. Bukhari, no. 3705)
                                                                        
2)        Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Naas.
            Setelah itu mengusapkan kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah x.
            Dari ‘Aisyah x, ia berkata: Nabi صلى الله عليه وسلم ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan Qul huwallahu ahad, Qul a’udzu birobbil falaq dan Qul a’udzu birobbin naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari, no. 5017)
            Membaca al-Qur`аn sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم ini lebih menenangkan hati dan pikiran dari pada mendengarkan alunan musik yang dapat menyibukkan diri dan mematikan hati dari berdzikir kepada Allah ta’ala.
3)        Membaca ayat kursi dan dua ayat terakhir dari Surat al-Baqarah.
            Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرُبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ.
Apabila kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat kursi, sebab dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah ta’ala dan setan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. (HR. Bukhari, no. 3275)

4)        Membaca dοa berikut:
            Dari Hudzaifah z, ia berkata: Apabila hendak tidur Nabi n mengucapkan:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا.
Bismika Allahumma amuutu wa ahya (Dengan menyebut nama-Mu, Ya Allah, aku mati dan hidup)
            Dan apabila bangun tidur beliau mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ.
Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amaatana wailaihi nusyuur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya-lah tempat kembali). (HR. Bukhari, no. 6324)
            Perlu diketahui, untuk doa sebelum tidur yang disebutkan pada poin keempat ini memiliki beberapa lafazh yang berbeda, dan lafazh di atas adalah salah satunya. Bagi yang telah hafal salah satu lafazh maka itu sudah cukup baginya. Tinggal ia baca setiap malam sebelum tidurnya.    
            Dan masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak disebutkan dalam tulisan kali ini. Bagi yang menginginkan dzikir lainnya, silakan merujuk ke buku saku Hisnul Muslim karya Syaikh Sa’id bin Wahf al-Qohthoni atau buku-buku lain yang mengumpulkan doa, dzikir dan wirid-wirid yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.
            Demikianlah yang bisa kami sampaikan. Semoga tulisan ringkas ini dapat kita amalkan dalam keseharian kita. Hanya Allah semata Robb Maha Pemberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

(Oleh: Sofyan Hadi)



FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE