quransunnahpemahamansahabat. Powered by Blogger.

About us

Flickr

Find Us On Facebook

Advertisement

Featured Video

Featured Video

Video Of Day

Rekomendasi Kami

Popular Posts

Kamu Pasti Tertarik

MoreBaru diupdate

Latest Products

Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Bencana alam dan berbagai musibah terus datang bertubi-tubi di seluruh penjuru dunia, dan kali ini giliran Jepang yang tertimpa gempa bumi sebesar 8,9 skala richter, yang kemudian disusul gelombang Tsunami tinggi yang menghancurkan bangunan-bangunan mewah, gedung-gedung tinggi, dan merobohkan semua benda yang menghalangi jalannya.
Peristiwa dahsyat tersebut baru saja berlalu dan telah terjadi. Meninggalkan banyak korban luka dan meninggal dunia beserta sisa-sisa bangunan yang berserakan tak tertata. Beramal baik atau tidak, mereka semua pasti akan mendapatkan balasannya. Dan Allah Maha Adil, sedikitpun Dia tidak akan menzhalimi hamba-Nya dalam perhitungan amalan.
Bagi seseorang yang masih diberi umur, hendaklah pandai-pandai mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang ada, mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk perjalanan panjang yang pasti akan dilalui olehnya. Jangan sampai ia berpisah dengan dunia ini kecuali dalam keadaan benar-benar beriman kepada Allah ta’ala. Bila tidak, kerugian abadi-lah yang akan menghampirinya. Wal’iyadzu billah.


KETERANGAN AL-QUR`AN BAHWA BENCANA KARENA ULAH TANGAN MANUSIA
Kekufuran dan kesyirikan merupakan salah satu faktor terbesar penyebab datangnya musibah. Hal ini dengan jelas dapat kita ketahui dari ayat-ayat al-Qur`an yang banyak menceritakan umat-umat terdahulu yang telah Allah ta’ala binasakan lantaran kekufuran mereka kepada-Nya.

Perhatikanlah kisah Fir`aun dan bala tentaranya yang Allah binasakan dengan ditenggelamkan di tengah lautan. Lihat pula kisah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam yang Allah timpakan banjir bandang yang tiada duanya. Lihat pula kisah Tsamud dan ‘Aad yang dibinasakan lantaran kekufuran mereka kepada Tuhan alam semesta. Dan masih banyak lagi kisah-kisah nyata lainnya, yang menjadi bukti nyata bahwa semakin jauhnya manusia dari Allah menjadi faktor datangnya kehancuran dan kebinasaan. Cukuplah semua itu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dan semua itu tercatat rapi di dalam ayat-ayat Ilahi yang begitu banyak sekali.

Allah ta’ala menyebutkan bahwa berbagai bencana yang terjadi di muka bumi, di darat dan di laut, dikarenakan oleh ulah tangan manusia, akibat perbuatan dosa mereka kepada-Nya. Sengaja Allah ta’ala timpakan kepada mereka, agar mereka kembali kepada jallan yang lurus. Allah ta’ala berfirman:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ (٤١)
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum: 41)
Allah juga berfirman:
“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuro: 30)
Firman-Nya: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari sebab (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. an-Nisa`: 79)
Berbagai macam adzab telah Allah timpakan kepada umat-umat terdahulu, adakah umat lain yang akan menyusulnya? Allah ta’ala berfirman:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab disebabkan dosanya; di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (di lautan), dan Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. al-Ankabut: 40)
Setelah merenungi beberapa ayat di atas, hendaklah kita mengintrospeksi diri masing-masing, dengan memperbaiki ketaatan kepada Allah ta’ala, mendekatkan diri kepada-Nya dan menjauhkan diri dari bermaksiat kepada-Nya.


SABDA RASULULLAH صلى الله عليه وسلم, PERKATAAN SAHABAT DAN TABI’IN
Rasulullah n juga menjelaskan bahwa bencana yang ada adalah karena ulah tangan manusia. Sabda beliau:
إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي عَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ.
“Apabila kemaksiatan telah merajalela pada umatku, maka Allah azza wa jalla akan meratakan mereka dengan adzab dari sisi-Nya.” (Lihat: ash-Shohihah no. 137)
Cukuplah hadits ini menjadi peringatan berharga bagi kita semua, kaum muslimin.
Abdullah bin Mas’udz berkata:
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ أَذِنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَلاَكِهَا.
“Apabila perzinaan dan transaksi riba telah merata pada suatu negeri maka Allah azza wa jalla mengizinkan negeri itu untuk dihancurkan.” (ad-Da` wa ad-Dawa`, hlm. 70)
Ka’ab bin Malikzberkata:
إِنَّمَا تُزَلْزَلُ الأَرْضُ إِذَا عُمِلَ فِيْهَا بِالْمَعَاصِي
“Tidaklah bumi ini diguncang melainkan karena maksiat yang dikerjakan di atasnya.” (ad-Da` wa ad-Dawa`, hlm. 74)
Umar bin Abdulazizzpernah mengirim surat ke seluruh penduduk negeri, yang mana di antara isinya adalah:
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ هَذَا الرَّجْفَ شَيْءٌ يُعَاتِبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ الْعِبَادَ.
Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini merupakan suatu teguran dari Allah bagi hamba-hamba-Nya.” (ad-Da` wa ad-Dawa`, hlm. 74)


JANGAN MERASA AMAN DARI ADZAB ALLAH
Terjadinya peristiwa seperti ini di sebagian negeri, tidak menandakan bahwa daerah lain yang tidak terkena bencana semua penduduknya mentauhidkan Allah, tidak berbuat bid’ah dan jauh dari maksiat kepada-Nya, sehingga mereka merasa aman dari adzab-Nya. Justru ditangguhkannya bencana merupakan ujian dari-Nya, apakah penduduk kota tersebut mau kembali kepada-Nya atau malah mendustakan ayat-ayat-Nya?

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. al-A’raf: 182-183)

Apakah kita merasa aman dari adzab Allah, padahal adzab dari-Nya bisa datang kapan saja, ketika sedang tidur siang atau istirahat malam. Perhatikanlah firman Allah azza wa jalla berikut:
“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah adzab Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari.” (QS. al-A’raf: 7)

Firman-Nya: “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Ataukah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 97-99)

Padahal jika ajal datang, tidak ada tawar-menawar dengan Malakul Maut, sedetikpun tidak bisa dimajukan atau diakhirkan. Allah ta’ala berfirman:
“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula mendahulukannya. Katakanlah: "Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian sikaaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu meminta disegerakan juga?" Kemudian apakah setelah terjadinya (adzab itu), kemudian kamu baru mempercayainya? apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan? Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu: "Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Yunus: 49-52)

Ketika adzab Allah datang, saat itulah mereka mengetahui dan benar-benar sadar bahwa selama ini mereka telah berbuat kezhaliman. Allah ta’ala berfirman:
فَمَا كَانَ دَعۡوَٮٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَـٰلِمِينَ (٥)
Maka tidaklah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka adzab kami, kecuali mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim". (QS. al-A’raf: 5)
Maka itu, janganlah kita merasa aman dari adzab Allah. Beramalah dan perbaiki kualitas amal tersebut, dekatkanlah diri kepada Allah dan gapailah cinta dan ridho-Nya, semoga Dia memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Amin.


BERSEGERALAH KEMBALI KEPADA ALLAH
Setelah kita mengetahui penjelasan di atas, bahwa musibah dan bencana itu datangnya dari Allah dan atas kehendak-Nya, demikian pula bahwa semua itu tidak akan terjadi melainkan karena ulah tangan manusia, maka apabila kita mengharapkan hidup dengan penuh ketentraman dan keamanan, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kembali kepada-Nya dengan taubat nashuha, beribadah hanya kepada-Nya semata dan menjauhi segala peribadatan kepada selain-Nya. Hendaklah kita banyak-banyak beristighfar dan berdoa, seraya memohon agar musibah dan kehinaan ini diangkat dari kaum muslimin.
Musibah dan bencana dari Allah azza wa jalla yang menyebabkan kehinaan dapat terangkat dengan kembali kepada ajaran Islam, mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ.
“Apabila kalian berjual beli dengan sistem riba, terlena dengan binatang ternak, ridha dengan pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan berikan kehinaan kepada kalian, dan Dia tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali ke agama kalian.” (Hadits shohih. Lihat: ash-Shohihah no. 11)
Semoga goresan pena ringkas ini dapat menjadi nasihat dan pencerahan. Wallahu ta’ala A’lam.
(Oleh: M. Sulhan Jauhari)






Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki harapan. Di antara sekian harapan yang ia idam-idamkan adalah hidup di dunia dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan menjadi harapan seluruh manusia, baik muslim maupun non muslim. Akan tetapi, seorang muslim mengharapkan kebahagiaan yang jauh lebih istimewa dari pada kehidupan dunia yang bersifat sementara, yaitu kebahagiaan yang kekal abadi di dalam surga Allah ta’ala.
Namun ironisnya, dalam menggapai kebahagiaan tersebut, ada sekelompok manusia yang menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka ingin mewujudkan kebahagiaan, namun tidak sesuai tuntunan. Mereka mengharapkan dapat bersuka cita, namun dengan tindakan yang tidak dihalalkan oleh Allah azza wa jalla. Mereka bermimpi akan hidup kekal di dalam surga sekaligus menjadi para pengantin bidadari-bidadari surga, tapi dengan cara melakukan tindak kriminal yang dikutuk oleh umat Islam di seluruh dunia. Mereka melakukan teror dan mengancam masyarakat dengan meledakkan fasilitas-fasilitas umum, merampok, membunuh, membuat keresahan, keonaran, kegelisahan, keributan, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.
Ketahuilah, tindakan brutal seperti ini tidak diajarkan oleh Islam. Tindakan teror tersebut tidak pernah pula dicontohkan oleh Rasulullah n. Meskipun mereka memandang perbuatannya itu baik, walaupun mereka meyakini bahwa tindakannya itu bagus, namun sesungguhnya semua itu adalah amalan yang sia-sia belaka. Bak seorang yang mengejar fatamorgana. Sampai kapanpun ia tidak akan dapat mendekati, apalagi sampai memegangnya.
Allah ta'ala befirman:
Katakanlah: "Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat dengan sebaik-baiknya. (QS. al-Kahfi: 104)
Maka itu, pada kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan bahwa Islam membenci terorisme dengan menjabarkan beberapa sisi kesalahan dan kesesatan para pelakunya -dan sisi-sisi yang lainnya masih begitu banyak-.

SISI PERTAMA: ISLAM MENGHARAMKAN KEZHALIMAN
Ketahuilah, agama Islam mengharamkan tindakan kezhaliman dan aniaya, baik dengan perkataan ataupun perbuatan, apalagi bila sampai melayangkan jiwa orang lain.
Dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim, Allah ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan kezhaliman tersebut haram pula di antara kalian, maka itu janganlah kalian saling menzhalimi.
Rasulullah n bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak boleh menzhaliminya, mencampakkannya dan tidak boleh pula ia meremehkannya.” (HR. Muslim)
Justru sebaliknya, Islam mengajarkan agar seorang muslim tidak mengalamatkan gangguan kepada sesama muslim; baik gangguan dengan ucapan maupun gangguan dengan perbuatan. Coba perhatikan sabda Nabi n berikut ini:
اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ.
Seorang muslim itu adalah apabila orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maksudnya, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi v, muslim itu ialah yang tidak mengganggu atau menyakiti muslim lainnya, baik dengan perkataan ataupun dengan perbuatan. (Syarh an-Nawawi 'ala Shahih Muslim, jilid 2, hlm. 10)
Rasulullah n juga bersabda:
Iman itu berjumlah enam puluh atau tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu salah satu dari cabang keimanan.  (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas mengisyaratkan agar gangguan dari tengah jalan disingkirkan, sekecil apapun itu. Lantas, bagaimana dengan menyingkirkan benda yang jelas berbahaya seperti bom dari jiwa kaum muslimin, yang mana itu dapat menghilangkan anggota badannya, membuatnya cacat, atau bahkan bisa melayangkan nyawanya. Tentu hal itu lebih utama dan lebih wajib untuk disingkirkan.
Dari sini kita ketahui, bahwa tindakan para teroris yang membombardir fasilitas-fasilitas umum dengan label jihad adalah perbuatan terkutuk yang dibenci oleh Islam. Di satu sisi mereka telah berbuat zhalim, di sisi lainnya mereka telah menyelisihi kandungan hadits Nabi n di atas.

SISI KEDUA: ALLAH MENGANCAM ORANG YANG MEMBUNUH SEORANG MUSLIM DENGAN SIKSA KEKAL ABADI DI NERAKA JAHANAM
Hal ini sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan dalam al-Qur`an:
وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنً۬ا مُّتَعَمِّدً۬ا فَجَزَآؤُهُ ۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدً۬ا فِيہَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ ۥ وَأَعَدَّ لَهُ ۥ عَذَابًا عَظِيمً۬ا (٩٣)
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya. (QS. an-Nisa`: 93)
Ibnu Katsir v berkata: “Ini adalah ancaman yang begitu keras dan tegas bagi siapa saja yang melakukan dosa besar seperti ini.” (Tafsir Ibn Katsir, surat an-Nisa`: 93)
Perhatikanlah, orang zhalim tersebut diancam dengan beberapa hal berikut: (1). Kekal di neraka Jahanam, (2). Murka Allah, (3). Laknat Allah, (4). Adzab yang pedih. Wal‘iyadzu billah.
Rasulullah n menjelaskan bahwa membunuh jiwa orang lain tanpa hak merupakan salah satu dosa besar yang wajib dijauhi.
Beliau n bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang dapat membinasakan. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa saja itu? Beliau menjawab: Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haknya, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang suci berbuat zina.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sungguh, hilangnya dunia ini lebih ringan dari pada melayangnya sebuah jiwa muslim. Rasulullah n bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.
Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah dari pada melayangnya jiwa seorang muslim. (Hadits shohih. Misyat al-Mashobih, no. 3462, Shohih al-jami’, no. 5077)

Membunuh Kafir Mu’ahad
Tindakan pengeboman yang mereka lakukan itu bukan hanya menelan korban dari kaum muslimin, akan tetapi juga banyak menghilangkan nyawa wisatawan luar negeri non muslim yang mu’ahad, yaitu yang diberikan jaminan keamanan oleh negara Indonesia. Ketahuilah, hal ini tidak diperbolehkan oleh Rasulullah n.
Beliau n bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا.
Siapa yang membunuh kafir mu’ahad niscaya tidak akan mencium wanginya surga. Padahal wanginya surga itu sudah tercium sejauh perjalanan empat puluh tahun. (HR. Bukhari)
Perhatikanlah, orang yang melakukan tindakan buruk ini tidak akan mencium wanginya surga. Sebaliknya dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Na’udzu billah min dzalik.

SISI KETIGA: MENEROR ORANG LAIN HUKUMNYA HARAM
Meneror atau menakut-nakuti orang lain hukumnya adalah haram. Pernyataan ini sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah n dalam sabda beliau:
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِماً.
Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti atau menteror muslim lainnya. (Misykat al-Mashobih, no. 3545)
Al-Munawi v menjelaskan, meskipun tujuannya hanyalah sekedar bercanda, maka hal itu sama saja tidak dibolehkan. (Faidhul Qodir, jilid 6, hlm. 447)
Jangankan menakut-nakuti atau meneror, hanya sekedar menunjuk saudaranya dengan senjata atau benda tajam ternyata hukumnya tidak boleh. Nabi n bersabda:
لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ.، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ.
Janganlah seorang dari kalian menunjuk saudaranya dengan senjata, sebab ia tidak tahu, karena setan bisa saja menarik tangannya (hingga ia membunuhnya), sehingga ia terjerumus ke dalam sebuah lubang neraka. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan malaikat melaknat orang yang berbuat demikian. Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ.
Barang siapa mengarahkan sepotong besi atau senjata kepada saudaranya, maka malaikat mengutuknya hingga ia menyudahi perbuatannya itu. (HR. Muslim)

SISI KEEMPAT: BUNUH DIRI DALAM ISLAM HUKUMNYA HARAM
Ketahuilah, bunuh diri dalam Syariat Islam hukumnya adalah haram, baik dengan dalih jihad, bom mati syahid atau yang lainnya. Allah ta’ala befirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.” (QS. an-Nisa`: 29)
Firman-Nya: “Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Barang siapa yang bunuh diri dengan suatu benda, maka ia akan disiksa dengan benda itu pada hari kiamat. (HR. Muslim)
Beliau n juga menerangkan: “Barang siapa bunuh diri dengan sepotong besi, maka potongan besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menusuk-nusuk perutnya di neraka jahanam, ia kekal selama-lamanya di dalamnya. Dan barang siapa yang bunuh diri dengan racun, maka ia akan meneguk racun itu di neraka jahanam, ia kekal selama-lamanya di dalamnya. Dan barang siapa yang melemparkan diri dari gunung atau tempat tinggi untuk bunuh diri, maka ia akan terlempar ke neraka jahanam, ia kekal selama-lamanya di dalamnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits-hadits di atas dengan tegas menjelaskan ancaman masuk neraka bagi siapa saja yang melakukan tindakan bunuh diri. Bahkan, di antara bentuk ancaman tersebut, Allah akan mengekalkan dirinya di neraka selama-lamanya. Wal 'iyadzu billah.

SISI KELIMA: TINDAKAN TERORISME MENCORENG NAMA BAIK ISLAM
Ketahuilah, tindakan gegabah dan brutal yang dilakukan oleh para teroris telah mencoreng nama baik Islam. Demikian pula mencoreng nama baik kaum muslimin yang berusaha menerapkan Syariat Islam dalam keseharian mereka. Perbuatan tersebut berimbas kepada mereka yang berusaha menjalankan ajaran Islam sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Rasulullah n.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin v berkata: "Tidak diragukan lagi, perbuatan ini tidak diridhai oleh setiap orang yang berakal, terlebih lagi oleh orang yang beriman!! Tindakan ini tidak diridhai oleh seorangpun lantaran menyelisihi ajaran al-Qur`an dan as-Sunnah. Sebab, hal tersebut dapat berakibat buruk terhadap agama Islam, baik dari sisi dalam maupun dari luar. Sebab, setiap orang yang mendengar kabar ini, ia tidak akan menyandarkan perbuatan ini melainkan kepada orang-orang yang komitmen dan berpegang teguh dengan ajaran Islam. Dengan serta merta mereka berkata, "Seperti itukah orang-orang islam!!?? Seperti inikah akhlak Islam??!!" Padahal, sebenarnya Islam berlepas diri dari tindakan buruk ini. Dan para pelaku tindakan ini, sebelum berbuat tidak baik kepada siapa saja, pada hakekatnya mereka telah berbuat tidak baik terhadap agama Islam. Kita memohon kepada Allah, agar membalas perbuatan buruk itu dengan balasan yang setimpal." (al-Faidah min Fatawa al-Ulama`, Muhammad bin Fahd al-Hushayyin, hlm. 28)

PENUTUP
Setelah menjelaskan beberapa poin di atas kita dapat mengetahui, bahwa tindakan teror-meneror bukanlah termasuk dari ajaran Islam. Sebaliknya, Islam dan kaum muslimin berlepas diri dari perbuatan buruk tersebut. Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah buruk tersebut dan senantiasa menjaga kita di atas jalan yang lurus.
(Oleh: M. Sulhan Jauhari)


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE